SULAWESI TENGGARA — Kunjungan jajaran manajemen Danantara ke pusat kendali operasional Jasa Marga itu bukan sekadar seremonial. Di hadapan Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono dan jajaran direksi anak usaha, Wamildan meninjau langsung bagaimana ketiga pilar layanan tersebut diintegrasikan dalam satu sistem terpadu. JMTC sendiri berperan sebagai "otak" yang memantau kondisi lalu lintas dan infrastruktur di seluruh jaringan jalan tol Jasa Marga secara real-time.
Rivan menjelaskan, penguatan integrasi ini selaras dengan arahan Danantara untuk mendorong transformasi pelayanan BUMN. Menurutnya, Jasa Marga tidak lagi hanya berpikir sebagai pengelola infrastruktur, melainkan sebagai penyedia layanan yang berorientasi pada pengalaman pelanggan.
"Dengan mengubah paradigma yang semula berfokus pada pengembangan jalan tol sebagai aset infrastruktur menuju budaya pelayanan terbaik dalam menghadirkan pengalaman perjalanan penuh arti melalui semangat melayani sepenuh hati," kata Rivan dalam keterangannya.
Filosofi Baru: Dari Infrastruktur Menjadi Infraculture
Jasa Marga menyebut pergeseran paradigma ini sebagai transisi dari infrastructure menjadi infraculture. Artinya, pembangunan fisik jalan tol harus diimbangi dengan budaya pelayanan yang prima. Ketiga pilar layanan yang dikuatkan memiliki peran yang saling melengkapi untuk mewujudkan hal tersebut.
Pilar pertama adalah preservasi, yang bertugas menjaga kualitas dan keselamatan jalan (protect the journey). Untuk pilar ini, Jasa Marga mengandalkan sistem bernama TROOPS (Tollroad Real Time Operation Oversight Performance System) yang didukung perangkat seperti Hawkeye. Teknologi ini memungkinkan identifikasi dini terhadap kerusakan atau kondisi infrastruktur yang membahayakan, sehingga respons perbaikan bisa dilakukan lebih cepat dan terukur.
Pilar kedua adalah pengembangan rest area sebagai titik destinasi yang mendukung kenyamanan pengguna (support the journey). Sementara pilar ketiga, layanan informasi, memastikan pengguna jalan mendapatkan data perjalanan yang akurat dan mudah diakses (inform the journey). Ketiganya dirancang untuk saling terhubung, sehingga pengalaman berkendara di jalan tol menjadi lebih mulus dan minim hambatan.
Teknologi Preservasi: Deteksi Dini Lewat TROOPS dan Hawkeye
Salah satu fokus utama dalam kunjungan tersebut adalah inovasi pada pilar preservasi. Sistem TROOPS yang dikembangkan Jasa Marga memungkinkan kondisi infrastruktur jalan teridentifikasi lebih dini. Dengan begitu, proses pelaporan, penentuan kebutuhan pemeliharaan, hingga respons perbaikan dapat dilakukan secara lebih terstandar.
Kehadiran Hawkeye sebagai sarana pendukung menambah kemampuan pemantauan visual secara real-time. Kombinasi kedua sistem ini diharapkan mampu menekan risiko kecelakaan akibat kerusakan jalan serta memperpanjang umur pakai aset jalan tol.
Integrasi yang tengah diperkuat ini merupakan bagian dari transformasi yang lebih luas di tubuh Jasa Marga. Perusahaan pelat merah tersebut tidak hanya mengejar keandalan infrastruktur, tetapi juga ingin memastikan setiap perjalanan yang dilalui pengguna memberikan kesan yang positif dan aman hingga sampai tujuan.
Dengan kunjungan langsung dari perwakilan Danantara ini, arah transformasi Jasa Marga mendapat pengawasan dan dukungan dari pemegang saham, terutama dalam hal peningkatan kualitas layanan yang berdampak nyata bagi masyarakat pengguna jalan tol di Indonesia.