Pencarian

Tsunami Ternate 1674: Longsoran Gunung Api dan Gelombang Dahsyat yang Menghancurkan Istana Raja

Kamis, 13 Agustus 2026 • 18:14:01 WIB
Tsunami Ternate 1674: Longsoran Gunung Api dan Gelombang Dahsyat yang Menghancurkan Istana Raja
Berikut adalah 3–5 caption foto berita yang sesuai dengan permintaan Anda:

SULAWESI TENGGARA — Peristiwa yang terjadi lebih dari tiga abad silam ini menegaskan bahwa Maluku Utara merupakan wilayah dengan dinamika tektonik dan vulkanik yang sangat aktif. Kombinasi antara pelepasan energi tektonik besar dan topografi curam menciptakan rangkaian bencana beruntun yang melumpuhkan pusat pemerintahan lokal kala itu.

Runtuhan Material yang Meratakan Pusat Kekuasaan

Daryono, Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Kamis (13/8/2026), menjelaskan bahwa guncangan gempa tidak hanya menggetarkan daratan, tetapi juga memicu ketidakstabilan lereng di area pegunungan vulkanik Ternate. Longsoran material masif meluncur deras dari perbukitan menuju pemukiman warga di bawahnya.

"Dampak dari runtuhan material tersebut sangat merusak dan menghancurkan infrastruktur penting pada masa itu," katanya.

Istana atau Rumah Raja Ternate yang berlokasi strategis di kaki gunung tidak luput dari gempuran material longsoran. Kerusakan parah di pusat pemerintahan lokal tersebut menjadi bukti betapa masifnya volume material yang terhempas akibat guncangan gempa.

Gelombang Tsunami yang Melumpuhkan Aktivitas Maritim

Rangkaian bencana mencapai puncaknya ketika gelombang tsunami besar menerjang kawasan pesisir dan pelabuhan Ternate beberapa saat setelah longsoran. Air laut yang datang mendadak menghempaskan dan menenggelamkan kapal-kapal yang sedang berlabuh, meluluhlantakkan garis pantai, serta melumpuhkan total aktivitas kebaharian di pulau tersebut.

Peristiwa 1674 ini menjadi pelajaran berharga tentang bahaya multi-hazard atau ancaman bencana ganda di wilayah kepulauan gunung api. Kombinasi guncangan gempa, longsoran lereng, dan tsunami—baik yang dipicu mekanisme deformasi dasar laut maupun landslide-triggered tsunami—merupakan manifestasi kerentanan tinggi kawasan ini.

Mitigasi Berbasis Sains untuk Mencegah Tragedi Serupa

Guna mengantisipasi terulangnya tragedi serupa, langkah-langkah mitigasi komprehensif mutlak diterapkan. Sistem peringatan dini tsunami berbasis multi-fenomena perlu terus dikembangkan, khususnya untuk mengantisipasi tsunami lokal yang dipicu longsoran lereng atau runtuhan tubuh gunung api di laut yang memiliki waktu peringatan sangat singkat.

Penataan ruang di kawasan pesisir dan lereng gunung api harus dilakukan secara ketat dengan menetapkan zona sempadan pantai serta melarang pemukiman padat di area rawan longsoran. Edukasi dan simulasi evakuasi mandiri berbasis prinsip "gempa kuat atau berdurasi lama sebagai sinyal alami evakuasi" wajib ditanamkan secara berkelanjutan kepada masyarakat pesisir.

Warga diharapkan segera bergerak menuju tempat lebih tinggi tanpa harus menunggu peringatan resmi saat gempa besar terjadi. Kesadaran ini menjadi kunci karena kecepatan evakuasi menentukan selamat tidaknya ribuan jiwa di wilayah rawan bencana seperti Ternate.

Follow www.liputankendari.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks