SULAWESI TENGGARA — Serangan ini tidak memerlukan interaksi dari korban. Cukup dengan mengikuti panggilan yang berbagi layar (screen sharing), baik sebagai peserta maupun host, perangkat bisa langsung disusupi tanpa indikasi apa pun. Temuan ini diungkap oleh firma keamanan siber A Security dan telah dilaporkan ke Zoom untuk ditambal.
Modus Serangan: Layar Berbagi Jadi Pintu Masuk
Menurut laporan Wired, kerentanan ini dieksploitasi melalui fitur berbagi layar. Penyerang yang berada dalam satu panggilan dapat mengeksekusi kode jarak jauh (remote code execution) untuk mengontrol perangkat korban.
Yang membuat temuan ini berbeda adalah proses penemuannya. Tim A Security menggunakan model AI yang tersedia untuk publik pada awal Juni lalu. Hanya butuh 20 prompt untuk menemukan celah dan merakit eksploitasi yang berfungsi penuh.
AI Mempercepat Riset Keamanan secara Drastis
Omer Gull, salah satu pendiri A Security, menyatakan bahwa proses yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan kini bisa diselesaikan dalam hitungan jam. "Dulu butuh tim berlima selama enam bulan dengan banyak penyempurnaan dan iterasi untuk menemukan ini. Sekarang orang bisa mencapai hasil yang sama dengan kurang dari 20 prompt," kata Gull kepada WIRED.
Ia juga menyoroti mengapa Zoom menjadi target yang menarik. "Zoom adalah target penting karena orang menganggapnya tepercaya saat menggunakannya. Mereka tidak melihatnya sebagai ancaman," imbuhnya.
Status Perbaikan dan Implikasi bagi Pengguna
Kabar baiknya, celah ini sudah ditambal oleh Zoom. Pengguna disarankan segera memperbarui aplikasi ke versi terbaru untuk menutup kerentanan tersebut.
Menariknya, Gull memaparkan temuan ini kepada jurnalis Wired, Lily Newman, melalui panggilan video di Microsoft Teams. Situasi ini menjadi pengingat bahwa aplikasi komunikasi apa pun bisa menjadi vektor serangan, bukan hanya yang selama ini dianggap berisiko tinggi.
Lanskap Ancaman yang Berubah
Temuan ini menegaskan bahwa lanskap keamanan siber berubah cepat. Kemampuan AI untuk mengaudit kode dan menemukan kelemahan membuat pekerjaan peretas menjadi lebih efisien. Bagi pengguna umum di Indonesia yang mengandalkan Zoom untuk rapat kerja atau sekolah daring, langkah paling bijak adalah memastikan aplikasi selalu diperbarui.
Kerentanan yang ditemukan lewat AI ini juga membuka diskusi baru: jika alat yang tersedia publik bisa menemukan celah secepat ini, maka aktor jahat dengan sumber daya lebih besar kemungkinan sudah memiliki eksploitasi serupa untuk aplikasi lain. Kewaspadaan dan kebiasaan memperbarui perangkat lunak bukan lagi opsional, melainkan keharusan.