Kenaikan tipis ini terjadi di tengah kekhawatiran inflasi yang kembali mengemuka setelah negosiasi jalur Hormuz menemui jalan buntu, mendorong harga minyak mentah Brent menguat. Kondisi ini menjadi penghambat bagi aset berisiko seperti bitcoin sepanjang musim panas, dan data ketenagakerjaan yang akan dirilis hari ini menjadi ujian berikutnya.
Imbal Hasil Obligasi AS Kembali Masuki Zona Bahaya
Ancaman terbesar bagi pasar kripto saat ini datang dari pasar obligasi. Direktur Makro Global Fidelity, Jurrien Timmer, menyebut tidak ada hal baik yang terjadi ketika imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun diperdagangkan di atas level 4,5%.
“Imbal hasil obligasi jangka panjang kembali bergerak, dengan yield tenor 10 tahun berada jauh di dalam zona bahaya di 4,73%. Seperti yang telah saya tulis berkali-kali, sejarah terkini menunjukkan tidak ada hal baik yang terjadi di atas 4,5%,” ujar Timmer dalam analisisnya, Jumat (4/10).
Permintaan Dana AI Menggerus Minat ke Obligasi Pemerintah
Timmer memaparkan beberapa faktor yang mungkin mendorong kenaikan imbal hasil ini. Salah satunya adalah efek crowding out terbalik — alih-alih pinjaman pemerintah yang besar menekan investasi sektor swasta, permintaan pendanaan yang tak pernah puas dari perusahaan-perusahaan AI justru mengalihkan minat investor dari obligasi pemerintah.
Kemungkinan lain adalah tumbuhnya skeptisisme bahwa Federal Reserve yang hawkish akan benar-benar merealisasikan retorika kebijakannya dengan tindakan nyata. Ada pula penjelasan yang menyebut pergerakan ini mencerminkan konsekuensi dari berkurangnya transparansi The Fed, karena ketidakjelasan cenderung meningkatkan ketidakpastian dan mendorong premi risiko lebih tinggi.
“Transparansi yang lebih rendah berarti lebih banyak ketidakpastian, dan ketidakpastian yang lebih besar biasanya berarti premi risiko yang lebih tinggi. Apa pun itu, kita sedang menghadapi bear steepening,” catatnya.
Tekanan ke Aset Berisiko dan Kripto
Mengerasnya imbal hasil obligasi kerap menjadi angin kencang bagi pasar saham dan teknologi baru seperti mata uang kripto. Investor cenderung menarik dana dari aset berisiko ketika imbal hasil obligasi pemerintah menawarkan return yang lebih menarik dengan risiko lebih rendah.
Untuk pasar Indonesia, pergerakan ini patut dicermati karena berdampak pada arus modal asing ke pasar keuangan negara berkembang. Jika imbal hasil obligasi AS terus naik, dolar AS menguat dan tekanan depresiasi rupiah berpotensi meningkat, yang pada akhirnya memengaruhi daya beli investor lokal terhadap aset kripto.
Data nonfarm payrolls yang akan dirilis malam ini menjadi penentu apakah tekanan terhadap bitcoin dan aset berisiko lainnya akan berlanjut atau mereda. Angka yang lebih kuat dari perkiraan bisa memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sementara data yang lemah justru membuka ruang untuk pelonggaran moneter.