Pencarian

Imbal Hasil Obligasi AS Tembus 4,73%, Bitcoin Terjepit di Tengah Kewaspadaan Investor Menanti Data Tenaga Kerja

Jumat, 07 Agustus 2026 • 19:14:31 WIB
Imbal Hasil Obligasi AS Tembus 4,73%, Bitcoin Terjepit di Tengah Kewaspadaan Investor Menanti Data Tenaga Kerja
Imbal hasil obligasi AS menembus 4,73%, menekan aset berisiko seperti bitcoin di tengah kewaspadaan investor.

Kenaikan tipis ini terjadi di tengah kekhawatiran inflasi yang kembali mengemuka setelah negosiasi jalur Hormuz menemui jalan buntu, mendorong harga minyak mentah Brent menguat. Kondisi ini menjadi penghambat bagi aset berisiko seperti bitcoin sepanjang musim panas, dan data ketenagakerjaan yang akan dirilis hari ini menjadi ujian berikutnya.

Imbal Hasil Obligasi AS Kembali Masuki Zona Bahaya

Ancaman terbesar bagi pasar kripto saat ini datang dari pasar obligasi. Direktur Makro Global Fidelity, Jurrien Timmer, menyebut tidak ada hal baik yang terjadi ketika imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun diperdagangkan di atas level 4,5%.

“Imbal hasil obligasi jangka panjang kembali bergerak, dengan yield tenor 10 tahun berada jauh di dalam zona bahaya di 4,73%. Seperti yang telah saya tulis berkali-kali, sejarah terkini menunjukkan tidak ada hal baik yang terjadi di atas 4,5%,” ujar Timmer dalam analisisnya, Jumat (4/10).

Permintaan Dana AI Menggerus Minat ke Obligasi Pemerintah

Timmer memaparkan beberapa faktor yang mungkin mendorong kenaikan imbal hasil ini. Salah satunya adalah efek crowding out terbalik — alih-alih pinjaman pemerintah yang besar menekan investasi sektor swasta, permintaan pendanaan yang tak pernah puas dari perusahaan-perusahaan AI justru mengalihkan minat investor dari obligasi pemerintah.

Kemungkinan lain adalah tumbuhnya skeptisisme bahwa Federal Reserve yang hawkish akan benar-benar merealisasikan retorika kebijakannya dengan tindakan nyata. Ada pula penjelasan yang menyebut pergerakan ini mencerminkan konsekuensi dari berkurangnya transparansi The Fed, karena ketidakjelasan cenderung meningkatkan ketidakpastian dan mendorong premi risiko lebih tinggi.

“Transparansi yang lebih rendah berarti lebih banyak ketidakpastian, dan ketidakpastian yang lebih besar biasanya berarti premi risiko yang lebih tinggi. Apa pun itu, kita sedang menghadapi bear steepening,” catatnya.

Tekanan ke Aset Berisiko dan Kripto

Mengerasnya imbal hasil obligasi kerap menjadi angin kencang bagi pasar saham dan teknologi baru seperti mata uang kripto. Investor cenderung menarik dana dari aset berisiko ketika imbal hasil obligasi pemerintah menawarkan return yang lebih menarik dengan risiko lebih rendah.

Untuk pasar Indonesia, pergerakan ini patut dicermati karena berdampak pada arus modal asing ke pasar keuangan negara berkembang. Jika imbal hasil obligasi AS terus naik, dolar AS menguat dan tekanan depresiasi rupiah berpotensi meningkat, yang pada akhirnya memengaruhi daya beli investor lokal terhadap aset kripto.

Data nonfarm payrolls yang akan dirilis malam ini menjadi penentu apakah tekanan terhadap bitcoin dan aset berisiko lainnya akan berlanjut atau mereda. Angka yang lebih kuat dari perkiraan bisa memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sementara data yang lemah justru membuka ruang untuk pelonggaran moneter.

Follow www.liputankendari.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: coindesk.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks