SULAWESI TENGGARA — Tekanan jual asing masih membayangi pasar modal dalam negeri. Berdasarkan data BEI, saham-saham seperti DSSA, ASII, BBCA, ANTM, dan ISAT menjadi sasaran utama aksi lepas investor asing sepanjang pekan sebelumnya. Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut pelemahan hari ini cenderung terbatas, mengingat tidak ada sentimen negatif baru yang signifikan dari dalam negeri.
"Berdasarkan analisa teknikal, IHSG hari ini berpotensi melemah terbatas. IHSG akan bergerak di level support 6.600 untuk level resistansi 6.710," ujar Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam riset hariannya, Senin (7/9).
Pelaku pasar akan mengarahkan perhatian pada rilis data ekonomi dari Bank Indonesia. Pada hari ini, otoritas moneter dijadwalkan mengumumkan data cadangan devisa periode Agustus 2026. Angka ini menjadi indikator ketahanan eksternal Indonesia di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah.
Selanjutnya, pada Rabu (9/9), BI akan merilis data indeks keyakinan konsumen. Data tersebut dinilai krusial untuk mengukur daya beli masyarakat yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Konsensus pasar memperkirakan keyakinan konsumen masih berada di level optimistis, meski ada potensi perlambatan di sektor riil.
Dari sisi global, pelaku pasar kembali bersikap wait and see menjelang rilis data ekonomi Amerika Serikat pekan ini. Data indeks harga produsen (IHP) AS diprakirakan mengalami kenaikan, baik secara bulanan maupun tahunan. Angka ini akan menjadi sinyal awal tekanan harga di tingkat produsen sebelum sampai ke konsumen.
Puncaknya, data inflasi AS akan dirilis pada Jumat (11/9). Angka inflasi ini menjadi tolok ukur penting bagi bank sentral AS (The Fed) dalam menentukan arah suku bunga pada pertemuan berikutnya. "Meskipun secara sentimen sedikit, namun dampak yang diberikan akan terasa terkait dengan data ekonomi di Amerika," jelas Tim Pilarmas.
Jika inflasi AS ternyata lebih tinggi dari perkiraan, pasar akan mengantisipasi sikap hawkish The Fed yang berpotensi memperkuat dolar AS. Kondisi ini biasanya menjadi sentimen negatif bagi pasar emerging market, termasuk Indonesia, karena berisiko memicu arus modal keluar.
Koreksi IHSG pekan lalu sekaligus memutus penguatan yang sempat terjadi di awal pekan. Investor kini cenderung memilih aset safe haven sambil menunggu kejelasan arah kebijakan moneter global dan domestik. Sepanjang tahun berjalan, capital inflow asing ke pasar saham masih tercatat positif, namun lajunya mulai melambat dalam beberapa pekan terakhir.
Untuk perdagangan hari ini, pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan harga komoditas sebagai indikasi awal sentimen investor asing. Level psikologis 6.600 akan menjadi ujian penting bagi IHSG. Jika support ini ditembus, potensi pelemahan lebih dalam terbuka.
Investasi mengandung risiko.