KONAWE SELATAN — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meninjau langsung kawasan persawahan di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan menyampaikan bahwa produksi beras di provinsi ini surplus. Menurutnya, kondisi itu membuat Sultra bisa mendukung program swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah pusat.
Zulkifli yang biasa disapa Zulhas menyebut dukungan pemerintah daerah berperan besar terhadap capaian tersebut. "Luar biasa dukungan bupati, gubernur, Sulawesi khususnya Sulawesi Tenggara surplus beras, saya lihat sawah-sawah di sini masih ada yang menguning, luar biasa," katanya saat ditemui di Konawe Selatan, Rabu.
Pupuk Subsidi yang Lebih Mudah Diakses Jadi Kunci
Peningkatan produksi beras di Sultra tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang mempermudah akses pupuk subsidi bagi petani. Zulhas menilai kebijakan itu terbukti mendongkrak produktivitas lahan.
Menurut dia, hasilnya terlihat meski sebagian petani menghadapi musim kemarau dan kesulitan air untuk mengaliri sawah. Produksi pertanian di Bumi Anoa tetap naik.
"Jadi kebijakan-kebijakan yang tepat terbukti bisa meningkatkan produktivitas, kita swasembada, tidak impor beras lagi," ujar dia.
Nilai Tukar Petani 131 Persen, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Selain produksi beras, Zulhas menyoroti kenaikan nilai tukar petani (NTP) berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik. Angka NTP disebut mencapai 131 persen.
Kenaikan itu menandakan daya beli petani meningkat dan kesejahteraan di desa ikut membaik. "Artinya petani Indonesia, petani padi dan jagung alhamdulillah sepanjang sejarah nilai tukarnya paling tinggi sekarang ini, 131," katanya.
Capaian tersebut disebut tidak lepas dari kebijakan pemerintah selama dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Fokusnya meningkatkan kesejahteraan petani padi dan jagung.
Perikanan dan Nelayan Jadi PR Berikutnya
Zulhas mengakui masih ada pekerjaan rumah di sektor lain. Nilai tukar nelayan (NTN) baru berada di angka 103 persen.
Pemerintah kini mengupayakan peningkatan produksi perikanan agar kesejahteraan nelayan ikut terangkat. Capaian di sektor beras diharapkan menjadi pijakan untuk sektor pangan lainnya.
Surplus beras Sultra disebut bisa mendorong ekspor hasil pertanian ke luar negeri jika produksi terus dijaga. Pemerintah pusat dan daerah akan melanjutkan koordinasi untuk memastikan pasokan tetap stabil.