Pemkot Kendari Pelajari Model RDF dan Maggot TPS 3R Rawasari untuk Perkuat Sistem Persampahan

Penulis: Lendra Saputra  •  Jumat, 09 Oktober 2026 | 15:17:01 WIB
Wali Kota Kendari Siska Karina Imran meninjau alur pengolahan sampah di TPS 3R Rawasari, Jakarta Pusat.

KENDARI — Kunjungan kerja Wali Kota Kendari Siska Karina Imran ke TPS 3R Rawasari menjadi langkah awal penjajakan sistem persampahan berbasis kawasan. Fasilitas di Jakarta Pusat itu melayani pengelolaan sampah tingkat kecamatan dengan alur yang lebih panjang dari sekadar pengangkutan ke tempat pemrosesan akhir.

Sampah yang masuk ke fasilitas tersebut dipilah lebih dulu. Fraksi organik dimanfaatkan sebagai bahan budidaya maggot atau Black Soldier Fly (BSF), sedangkan sampah residu yang masih memiliki nilai kalor dicacah dan dikeringkan untuk menghasilkan RDF.

Kapasitas 25 Ton per Hari dan Alur Pengolahan di TPS 3R Rawasari

TPS 3R Rawasari memiliki kapasitas pengolahan sekitar 25 ton sampah per hari. Cakupan layanannya setingkat kecamatan, dengan pemilahan sebagai pintu masuk utama sebelum sampah diarahkan ke pengolahan organik atau produksi RDF.

RDF yang dihasilkan dari proses pencacahan dan pengeringan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif bagi kebutuhan industri. Skema itu membuat sebagian sampah tidak lagi berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Siska menilai pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pengangkutan dari permukiman. "Kita melihat langsung bagaimana sampah dipilah, diolah, kemudian dimanfaatkan kembali. Ini menjadi salah satu referensi bagi Kendari untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terpadu," jelasnya.

Mengapa Pemkot Kendari Tidak Menyalin Mentah Model Rawasari

Pemkot Kendari akan melihat kemungkinan penerapan model serupa dengan menyesuaikannya terhadap kondisi kota. Karakteristik masyarakat, ketersediaan lahan, dan kapasitas pengelolaan yang dimiliki menjadi pertimbangan tersendiri.

"Kita tidak serta-merta menyalin model Rawasari. Kita pelajari sistemnya, teknologinya, operasionalnya, kemudian kita sesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan Kota Kendari," papar Siska.

Ia menekankan pemilahan dari sumber menjadi kunci agar proses pengolahan berjalan lebih efektif. "Yang ingin kita dorong adalah bagaimana sampah dari sumbernya sudah mulai dipilah dan kemudian diolah. Dengan begitu, tidak semua sampah berakhir di tempat pemrosesan akhir," bebernya.

Sampah Diposisikan sebagai Material Bernilai Ekonomi

Pendekatan di Rawasari menunjukkan pengelolaan sampah dapat menggabungkan aspek lingkungan dan ekonomi. Sampah organik berpeluang menjadi kompos atau bahan budidaya maggot, sementara fraksi bernilai kalor diolah menjadi RDF.

"Sampah harus kita lihat sebagai sesuatu yang bisa dikelola. Ada yang bisa menjadi kompos, ada yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya maggot, dan ada yang bisa diolah menjadi RDF," ungkap Siska.

Dalam kunjungan itu, Siska bersama jajaran Pemkot Kendari menelusuri langsung alur pengelolaan sampah. Mulai dari proses pemilahan, pengolahan organik dengan maggot, hingga produksi RDF dari sampah residu yang masih memiliki nilai kalor.

Langkah Selanjutnya: Kajian Sistem Persampahan Berbasis Kawasan

Pemkot Kendari selanjutnya akan mengkaji pola pengelolaan tersebut sebagai salah satu referensi dalam pengembangan sistem persampahan berbasis kawasan. Penguatan sistem diarahkan berjalan dari hulu hingga hilir.

"Kita ingin pengelolaan sampah di Kendari semakin terintegrasi. Bukan hanya mengangkut sampah, tetapi bagaimana sampah itu dipilah, diolah, dikurangi volumenya, dan kalau memungkinkan memberikan nilai tambah bagi masyarakat," tandas Siska.

Reporter: Lendra Saputra
Sumber: terassultra.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top