KENDARI — Sebanyak 11 kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara (Sultra) resmi menetapkan status siaga atau tanggap darurat bencana kekeringan. Kondisi ini memaksa pemerintah daerah bergerak cepat menyusul luas lahan pertanian yang terdampak terus bertambah setiap pekannya.
Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Distanak Sultra, Muhammad Taufik, mengungkapkan perluasan lahan terdampak terjadi di sejumlah sentra produksi padi. "Luas sawah yang terdampak kekeringan mencapai 3.041,55 hektare. Sebelumnya luas lahan terdampak tercatat 2.846 hektare," katanya, Senin (24/8/2026).
Dari total lahan yang terdampak, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) mencatatkan kerusakan terluas dengan 1.221 hektare. Disusul Kabupaten Bombana yang mencapai 1.195 hektare, dan Kolaka Timur (Koltim) seluas 298,05 hektare.
Wilayah lain yang turut merasakan dampak meliputi Konawe dengan 172,75 hektare, Kolaka 67 hektare, serta Baubau 54 hektare. Distanak juga mencatat lahan terdampak di Buton seluas 27,25 hektare, Kolaka Utara (Kolut) 4 hektare, dan Buton Tengah (Buteng) 2 hektare.
Dampak kekeringan tidak hanya membuat lahan mengering, tetapi juga memicu gagal panen atau puso. Distanak Sultra mencatat luas tanaman padi yang mengalami puso mencapai 179,6 hektare hingga 22 Agustus 2026, meningkat dari catatan sebelumnya yang sebesar 167,6 hektare.
Lahan padi yang dipastikan gagal panen terkonsentrasi di tiga daerah. Bombana menjadi wilayah dengan puso terluas mencapai 113 hektare, disusul Konsel seluas 59,6 hektare, dan Kolaka 7 hektare.
Penetapan status siaga dan tanggap darurat tersebut tersebar di Kabupaten Bombana, Kolaka Timur, Muna, Buton Utara, Muna Barat, Buton Selatan, Buton Tengah, Konawe Selatan, Kolaka Utara, Konawe Kepulauan, dan Kota Kendari.
Meluasnya area terdampak menunjukkan tekanan kekeringan mulai serius mengancam ketahanan pangan di sejumlah wilayah Sultra, terutama daerah yang menjadi lumbung padi. Pemerintah daerah pun dihadapkan pada kebutuhan penanganan cepat, baik untuk penyelamatan tanaman yang masih produktif maupun bantuan bagi petani yang lahannya gagal panen.