SULAWESI TENGGARA — Perang flagship di kelas harga Rp 68–88 juta memang selalu menarik. Vivo X300 E datang dengan spesifikasi yang terlihat "overkill" di atas kertas, sementara Samsung Galaxy S26 memilih pendekatan yang lebih konservatif namun matang. Keduanya sama-sama memakai material kaca dan aluminium dengan sertifikasi IP68, jadi urusan build quality tidak perlu diragukan lagi.
Ini sektor paling timpang dari kedua ponsel ini. Vivo X300 E membawa baterai 7.200mAh dengan pengisian cepat 90W — angka yang bahkan membuat sebagian besar tablet kalah. Samsung Galaxy S26 hanya dibekali 4.300mAh dengan charger 25W. Untuk pemakaian harian di Indonesia yang sering mobile, Vivo jelas lebih lega: bisa nyaris dua hari tanpa charger.
Samsung membalas dengan fitur yang tidak dimiliki Vivo: wireless charging 15W dan reverse wireless charging. Kalau Anda sudah terikat ekosistem Samsung Galaxy Watch atau Buds, fitur ini terasa praktis. Tapi secara mentah-mentah, Vivo menang telak di sektor baterai.
Vivo X300 E memakai panel AMOLED 6,59 inci dengan refresh rate 144Hz dan kecerahan puncak 5.000 nits. Samsung Galaxy S26 hadir dengan Dynamic LTPO AMOLED 2X 6,3 inci yang lebih kecil, refresh rate adaptif 120Hz, dan kecerahan 2.600 nits. Di bawah sinar matahari tropis yang terik, keduanya tetap terbaca jelas, tapi Vivo punya keunggulan teknis di angka.
Untuk performa, Vivo mengandalkan Snapdragon 8 Gen 5 dengan penyimpanan UFS 4.1. Samsung memakai Snapdragon 8 Elite Gen 5 atau Exynos 2600 tergantung region. Perbedaan chipset ini penting: di Indonesia, kita kemungkinan besar mendapat varian Exynos. Secara pengalaman harian, keduanya sama-sama mulus untuk gaming berat dan multitasking. Yang membedakan adalah komitmen Samsung memberikan tujuh tahun pembaruan Android — Vivo belum menyamai angka itu.
Vivo X300 E unggul di atas kertas: kamera utama 50MP dengan OIS, telefoto periskop 50MP dengan zoom optik 3x, dan optik Zeiss. Ultrawide-nya cuma 8MP, ini titik lemahnya. Samsung membawa telefoto 10MP, ultrawide 12MP, dan kemampuan video 8K yang lebih stabil.
Untuk kebutuhan foto detail dan zoom, Vivo lebih unggul. Untuk perekaman video dan pemrosesan gambar yang konsisten, Samsung masih juara. Kamera depan Vivo 50MP dengan autofokus jelas lebih unggul untuk selfie, sementara Samsung 12MP Dual Pixel lebih andal dalam kondisi minim cahaya.
DeX jelas lebih berguna untuk produktivitas — Anda bisa menyambungkan ke monitor dan bekerja seperti desktop. Infrared blaster lebih nichenya: berguna untuk mengontrol AC di kamar kos atau TV di ruang tamu.
Vivo X300 E dibanderol sekitar USD 700 (Rp 68,2 juta), sedangkan Galaxy S26 sekitar USD 900 (Rp 88 juta). Selisih Rp 20 juta bukan angka kecil.
Vivo X300 E adalah pilihan tepat untuk Anda yang menginginkan hardware paling bertenaga dengan harga lebih rendah, baterai yang tidak perlu dipikirkan, dan kamera zoom yang solid. Kekurangannya: dukungan software tidak selama Samsung, dan ultrawide 8MP terasa jadul di kelas flagship.
Samsung Galaxy S26 cocok untuk Anda yang memprioritaskan umur software panjang, fitur ekosistem seperti DeX, dan wireless charging. Tapi baterai 4.300mAh dengan pengisian 25W di harga Rp 88 juta terasa pelit — ini kelemahan yang sulit dimaafkan di tahun 2026.
Kesimpulannya: beli Vivo kalau Anda mau nilai terbaik hari ini. Beli Samsung kalau Anda memandang ponsel sebagai investasi jangka panjang.